Total Tayangan Halaman

Jumat, 03 Maret 2017

Membacalah, Terang Bersamamu.

Membacalah, Terang Bersamamu.

Oleh : Pekikkan Jemari



            Pada suatu waktu, terdapat perkampungan kecil, tepatnya  Desa Fufukilan, yang daerah sekitarnya terdapat banyak bukit-bukit yang dihinggapi banyak semak dan pepohonan-pepohonan hijau yang tinggi menjulang ke atas bersama cicau-cicau burung bersahutan hinggap di dahan pohon tersebut membangun sarang, jernihnya air sungai beserta dengan desis gemericiknya, yang takkan pernah berhenti mengalir dan memberikan senyuman kepada siapa saja yang menikmati alamnya. Tetapi pada saat malam hari, desa tersebut hanya diterangi oleh sekumpulan obor-obor di tiap-tiap rumahnya, di mana pada saat itu belum ada lampu atau pun listrik untuk bisa menemani kelangsungan hidup bagi masyarakat setempat. Walau pun begitu, daerah tersebut sangat asri nan elok dipandang, sehingga seluruh masyarakat desa tersebut tinggal dengan damai dan bersahaja.
            Terdapat dari sekian banyak masyarakat yang membangun rumah panggungnya dengan bilik-bilik bambu, dengan beratapkan ijuk atau pun serat-serat jerami untuk melindunginya dari sinar matahari, juga terpaan hujan yang menderu.
            Di suatu rumah panggung terdapat suatu keluarga dengan tiga orang yakni, beranggotakan Bapak, Ibu, dan juga satu anak laki-laki yang bernama Haserun. Bapak Ibunya berkerja sebagai buruh di suatu pabrik tembakau yang dikelola secara bersama-sama dengan seluruh masyarakat di Desa Fufukilan, jika panen tembakau sedang dalam masa puncaknya dan menghasilkan banyak sekali keuntungan, kedua orangtua dari Haserun seringkali membelikannya oleh-oleh dari hasil jerih payahnya yakni, buku. Tetapi pada setiap waktu dibelikan, Haserun hanya menerimanya saja dengan senyuman, dan kemudian diletakkan begitu saja tanpa pernah menoleh dan berkutat dengan buku tersebut tadi. Haserun merupakan putra satu-satunya yang dimiliki oleh kedua orangtuanya, maka dari itu kedua orangtuanya sangat sayang kepada Haserun. Haserun bocah laki-laki yang gemar bermain dan sering melakukan hal-hal aneh, dia juga sangat malas. Haserun kini mengenyam pendidikan di bangku sekolah kelas 3 bersama dengan teman sebayanya, dia juga mempunyai teman karibnya yaitu, Dahin. Dahin merupakan perempuan berparas cantik pun pintar, karena Dahin gemar sekali membaca buku, dan paling menonjol pada bidang ilmu bumi, dibesarkan dari orangtuanya yang menggemari baca buku pula, sehingga menularkannya pada anaknya. Dahin dan Haserun tinggal bersampingan maka dari itu mereka berdua menjadi teman karib tetapi dengan banyak perbedaan menyelimuti mereka.
            Di sekolah, tepat di ruang kelasnya. Guru sedang menjelaskan tentang pelajaran ilmu bumi, tetapi pada suatu saat guru sedang menjelaskan Haserun tertidur lelap, karena semalam tidur teramat larut. Dahin yang menjadi teman sebangkunya menegurnya dengan bisikan “Run, run, bangun nanti kamu kena jewer oleh Pak Guru, run”. Haserun membalas “tenang, selama kau tenang, tidak akan ada yang menjewerku, apalagi Pak Guru itu”. Tiba-tiba Pak Guru menoleh, dan melihat ada salah seorang siswa yang kelihatan tidak mengikuti pelajarannya dengan baik, sontak guru itu membangunkan Haserun, digepraknya meja itu dengan penuh kesal. Praaaakk!!! meja digertakannya, Haserun kaget dengan berkata “Siapa yang geprak-geprak meja?!”. Lalu Haserun dengan kaget menatap paras Pak Guru yang dipenuhi dengan warna merah yang menyala di mukanya, Pak Guru menjawab “Saya yang geprak! Tidak suka kamu?! Kamu tidur saat saya menerangkan, kurang asem! sini berikan kau punya kuping!”. Terjadilah, dan dijewerlah Haserun, selaras dengan itu di ruangan bergemuruh mencemooh Haserun, “whooo, tidur kok di kelas....whooo”.
            Kemudian, bel tanda pulang berdering dan guru berkata “Jangan lupa kalian semua harus belajar, karena minggu depan akan diadakan tes, barang siapa yang tidak lulus akan dipanggil orang tuanya menghadap kepada bapak, mengerti anak-anak?”. Murid satu kelas menyaut dengan berbarengan “mengerti paaaaak”.
            Dalam perjalanan ke rumah seperti biasa Haserun pulang ditemani Dahin, ketika itu juga Dahin memulai “Run, mengapa kau tadi tidur pada saat Pak Guru menjelaskan pelajaran ?”. Dengan sedikit kikuk Haserun menanggapi dibarengi dengan menggaruk kepalanya “Iya, Dah, aku semalam tidur agak larut, karena aku mencoba dan menyeduh kopi bapak di rumah, selepas aku meneguknya sampai habis, efeknya pada malam itu mataku sangat menyala dan tidak merasa ngantuk, eh pas pagi-pagi baru terasa ngantuk, sekolah saja harus dibangunkan ibu, itu juga masih ngantuk, berat sekali sampai-sampai aku tidak bisa menahannya setiba sampai sekolah, malah sampai jam belajar berlangsung, hehehehe..”
            Dahin menanggapi “hufft....ada-ada saja perilakumu ya run, oiya...mengapa pada saat kamu begadang tidak kamu manfaatkan waktumu untuk membaca buku?”. Haserun menjawab “Aku tidak suka baca buku, Dah...rasanya penat yang menerpa begitu aku membaca buku”. Dahin hanya berkomentar “Yaudah deh...tapi kalau bisa usahakan membaca ya run, untuk ujian minggu depan nanti”. Haserun kini membalasnya dengan senyuman, dan mereka masuk ke dalam rumah masing-masing untuk beristirahat.


**


            Pada hari ini tepat seminggu waktu yang diberikan Pak Guru kepada murid-muridnya untuk belajar menghadapi tes. Dalam pagi hari yang cerah disertakan dengan bunyi burung-burung yang saling bercericau. Haserun dan Dahin berjalan menuju ke sekolah. Seperti biasa Dahin memulai “bagaimana run...kau sudah membaca dan belajar bukan?”. Haserun kali ini berbohong, berkata “sudah kok, semua buku sudah kubaca...tiap halaman...bagian, dan juga kelemahannya...hahahaha”. Dahin bersahut “sok kamu, awas aja nanti kalau tak bisa mengerjakan”.
            Bunyi bel berdering dengan kencang, tanda masuk dan dimulainya pelajaran.
            Guru masuk ruangan dan memulai “Baik, anak-anak siapkan alat tulis kalian di atas meja”. Banyak murid bersahutan “Siap pak guru!”. Pak guru membagikan lembar soal bersertakan dengan lembar jawabannya, dengan berkata “oke, silahkan dimulai, dan dahulukan dengan berdoa”.
           
Suasana sunyisenyap sangat diarasai, oleh masing-masing setiap murid yang berkutat dengan soal-soal dan menjawabnya. Tapi Haserun merasa sangat risau sendirian, dan bergumam “Duh...apa ya...duh”. Dahin melirik ada yang tidak beres sambil berbisik “Kenapa run? Kau bisa mengerjakannya bukan?”. Bersahut Haserun “Tidak bisa aku menjawab tiap-tiap pertanyaan pada soal yang diberikan, Dah...duh...bagaimana ini?...belum satu soal pun yang kutulis, sedang waktunya sedikit lagi habis”. Dahin bereaksi dengan menepuk keningnya sendiri, sambil berkata “Ya ampun”.
            Waktu ujian selesai dan lembar jawaban dikumpulkan. Kemudian pak Guru melihat salah satu kertas yang tidak dibubuhi jawaban samasekali, dilihatnya lembar kertas itu dan berkata “Haserun...mengapa lembar jawabanmu kosong?”. Haserun menjawab dengan cemas dan kikuk “Ma..ma..aaff pak, saya belum tahu mau memberi jawaban apa...karena saya tidak membaca..”. Pak Guru berkata “Esok panggil orang tuamu menghadap bapak, mengerti?!”. Haserun dengan lunglai dan pasrah “iya pak, segera”.


**


Hari ini perwakilan orangtua dari Haserun dipanggil, untuk menemui Pak Guru. Ibunya lah yang berangkat untuk menemui Pak Guru, karena Bapak Haserun mestilah berkerja demi mengepulnya asap di dapur mereka.
Setibanya Ibu Haserun di sekolah, langsung masuk dan menemui Pak Guru. Pak Guru memulai “Saya hendak bertanya kepada Ibu, mengapa bisa terjadi Haserun mengalami kondisi buruk seperti ini?”. Bersahut sang Ibu “Buruk?...apa yang dimaksud dengan Pak Guru?”. Pak Guru menjawab “Iya, Haserun mempunyai nilai yang sangat buruk jauh dari teman-teman sebayanya, pada saat diadakan tes, Haserun tidak bisa menjawab salah satu nomor dari soal yang saya berikan, apakah Ibu selaku orangtua dari Haserun sering menemani dan memperingatkannya untuk belajar?. Menjawab Ibu Haserun dengan kikuk “ Maaf pak...saya tidak pernah memperingatkan, atau pun menemani Haserun belajar pak...karena saya dan suami sibuk dengan tempat kerja kami di pabrik, karena keadaan kondisi pabrik yang setiap harinya sibuk, tetapi saya sering sekali membelikan buku-buku untuk dia baca...”. Pak Guru memotong “Tetapi percuma kalau Ibu sendiri terus membeli buku, juga tidak dibaca oleh anak ibu sendiri”. Ibu Haserun bersahut “Saya juga paham dengan kondisi seperti ini pak, dengan kurangnya pengawasan yang kami lakukan terhadap Haserun, mungkin sekarang kami selaku orangtua akan memberikan penyuluhan kepada anak kami, untuk bisa belajar lebih giat dan baik”.
Percakapan pada saat itu menemukan solusi, yang akhirnya Ibu Haserun tidak lagi bekerja di pabrik bersama suaminya, dan ingin menemani Haserun saat ia berada di rumah.
**
Pada suatu malam, Haserun bersama Ibu duduk di kursi yang diterangi oleh sebuah pelita yang tergeletak di atas meja, Ibu Haserun memulai “Nak, kau lihat pelita yang menyala itu?”. Haserun tertegun, lalu menjawab “Iya bu, pelita itu menerangi malam kita yang gelap dan dingin”. Ibu memulai kembali “Ibu ingin kau seperti pelita itu, nak”. Haserun tak mengerti maksud apa yang diinginkan ibunya, dan bertanya “Kok saya jadi pelita, bu?...saya kan tidak mempunyai sumbu untuk dibakar, bu...ibu senang aku jadi pelita yang terbakar, dan ibu mau aku terbakar?”. Ibunya heran dan menjawab “Hah, ya tidak harus jadi seperti itu juga, nak....yang ibu maksud dengan pelita yaitu, pabila kamu sering membaca, kamu dapat mengetahui berbagai macam pengetahuan dan informasi yang sebelumnya kamu tidak mengerti, menjadi mengerti, dan itu bisa menjadi seperti pelita, yang bisa menerangi dirimu sendiri, dalam gelap yang dingin, malah juga kamu bisa menerangi kegelapan yang dialami oleh setiap orang yang ada disekitarmu, maksud ibu seperti itu, nak”. Haserun menjawab “Oh, seperti itu bu, heheh...maaf ya bu, selama ini, aku tidak membaca buku yang selama ini sering engkau berikan kepadaku, mulai sekarang saya akan memperbaiki kebiasaan buruk ini menjadi kebiasaan baik untuk diriku sendiri, dan mungkin saya juga bisa menjadi seperti pelita yang ibu maksud”. Ibu tersenyum, dan mendekap Haserun seraya berkata “Membacalah nak, terang bersamamu”.



TAMAT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar