Membacalah, Terang Bersamamu.
Oleh : Pekikkan Jemari
Pada
suatu waktu, terdapat perkampungan kecil, tepatnya Desa Fufukilan, yang daerah sekitarnya
terdapat banyak bukit-bukit yang dihinggapi banyak semak dan
pepohonan-pepohonan hijau yang tinggi menjulang ke atas bersama cicau-cicau
burung bersahutan hinggap di dahan pohon tersebut membangun sarang, jernihnya
air sungai beserta dengan desis gemericiknya, yang takkan pernah berhenti
mengalir dan memberikan senyuman kepada siapa saja yang menikmati alamnya. Tetapi
pada saat malam hari, desa tersebut hanya diterangi oleh sekumpulan obor-obor
di tiap-tiap rumahnya, di mana pada saat itu belum ada lampu atau pun listrik
untuk bisa menemani kelangsungan hidup bagi masyarakat setempat. Walau pun
begitu, daerah tersebut sangat asri nan elok dipandang, sehingga seluruh
masyarakat desa tersebut tinggal dengan damai dan bersahaja.
Terdapat
dari sekian banyak masyarakat yang membangun rumah panggungnya dengan
bilik-bilik bambu, dengan beratapkan ijuk atau pun serat-serat jerami untuk
melindunginya dari sinar matahari, juga terpaan hujan yang menderu.
Di
suatu rumah panggung terdapat suatu keluarga dengan tiga orang yakni,
beranggotakan Bapak, Ibu, dan juga satu anak laki-laki yang bernama Haserun. Bapak
Ibunya berkerja sebagai buruh di suatu pabrik tembakau yang dikelola secara
bersama-sama dengan seluruh masyarakat di Desa Fufukilan, jika panen tembakau
sedang dalam masa puncaknya dan menghasilkan banyak sekali keuntungan, kedua
orangtua dari Haserun seringkali membelikannya oleh-oleh dari hasil jerih
payahnya yakni, buku. Tetapi pada setiap waktu dibelikan, Haserun hanya
menerimanya saja dengan senyuman, dan kemudian diletakkan begitu saja tanpa
pernah menoleh dan berkutat dengan buku tersebut tadi. Haserun merupakan putra
satu-satunya yang dimiliki oleh kedua orangtuanya, maka dari itu kedua
orangtuanya sangat sayang kepada Haserun. Haserun bocah laki-laki yang gemar
bermain dan sering melakukan hal-hal aneh, dia juga sangat malas. Haserun kini
mengenyam pendidikan di bangku sekolah kelas 3 bersama dengan teman sebayanya,
dia juga mempunyai teman karibnya yaitu, Dahin. Dahin merupakan perempuan
berparas cantik pun pintar, karena Dahin gemar sekali membaca buku, dan paling
menonjol pada bidang ilmu bumi, dibesarkan dari orangtuanya yang menggemari
baca buku pula, sehingga menularkannya pada anaknya. Dahin dan Haserun tinggal
bersampingan maka dari itu mereka berdua menjadi teman karib tetapi dengan
banyak perbedaan menyelimuti mereka.
Di
sekolah, tepat di ruang kelasnya. Guru sedang menjelaskan tentang pelajaran
ilmu bumi, tetapi pada suatu saat guru sedang menjelaskan Haserun tertidur
lelap, karena semalam tidur teramat larut. Dahin yang menjadi teman sebangkunya
menegurnya dengan bisikan “Run, run, bangun nanti kamu kena jewer oleh Pak
Guru, run”. Haserun membalas “tenang, selama kau tenang, tidak akan ada yang
menjewerku, apalagi Pak Guru itu”. Tiba-tiba Pak Guru menoleh, dan melihat ada
salah seorang siswa yang kelihatan tidak mengikuti pelajarannya dengan baik,
sontak guru itu membangunkan Haserun, digepraknya meja itu dengan penuh kesal.
Praaaakk!!! meja digertakannya, Haserun kaget dengan berkata “Siapa yang
geprak-geprak meja?!”. Lalu Haserun dengan kaget menatap paras Pak Guru yang
dipenuhi dengan warna merah yang menyala di mukanya, Pak Guru menjawab “Saya
yang geprak! Tidak suka kamu?! Kamu tidur saat saya menerangkan, kurang asem!
sini berikan kau punya kuping!”. Terjadilah, dan dijewerlah Haserun, selaras
dengan itu di ruangan bergemuruh mencemooh Haserun, “whooo, tidur kok di
kelas....whooo”.
Kemudian,
bel tanda pulang berdering dan guru berkata “Jangan lupa kalian semua harus
belajar, karena minggu depan akan diadakan tes, barang siapa yang tidak lulus
akan dipanggil orang tuanya menghadap kepada bapak, mengerti anak-anak?”. Murid
satu kelas menyaut dengan berbarengan “mengerti paaaaak”.
Dalam
perjalanan ke rumah seperti biasa Haserun pulang ditemani Dahin, ketika itu juga
Dahin memulai “Run, mengapa kau tadi tidur pada saat Pak Guru menjelaskan
pelajaran ?”. Dengan sedikit kikuk Haserun menanggapi dibarengi dengan
menggaruk kepalanya “Iya, Dah, aku semalam tidur agak larut, karena aku mencoba
dan menyeduh kopi bapak di rumah, selepas aku meneguknya sampai habis, efeknya
pada malam itu mataku sangat menyala dan tidak merasa ngantuk, eh pas pagi-pagi
baru terasa ngantuk, sekolah saja harus dibangunkan ibu, itu juga masih
ngantuk, berat sekali sampai-sampai aku tidak bisa menahannya setiba sampai
sekolah, malah sampai jam belajar berlangsung, hehehehe..”
Dahin
menanggapi “hufft....ada-ada saja perilakumu ya run, oiya...mengapa pada saat
kamu begadang tidak kamu manfaatkan waktumu untuk membaca buku?”. Haserun menjawab
“Aku tidak suka baca buku, Dah...rasanya penat yang menerpa begitu aku membaca
buku”. Dahin hanya berkomentar “Yaudah deh...tapi kalau bisa usahakan membaca
ya run, untuk ujian minggu depan nanti”. Haserun kini membalasnya dengan
senyuman, dan mereka masuk ke dalam rumah masing-masing untuk beristirahat.
**
Pada
hari ini tepat seminggu waktu yang diberikan Pak Guru kepada murid-muridnya
untuk belajar menghadapi tes. Dalam pagi hari yang cerah disertakan dengan
bunyi burung-burung yang saling bercericau. Haserun dan Dahin berjalan menuju
ke sekolah. Seperti biasa Dahin memulai “bagaimana run...kau sudah membaca dan
belajar bukan?”. Haserun kali ini berbohong, berkata “sudah kok, semua buku
sudah kubaca...tiap halaman...bagian, dan juga kelemahannya...hahahaha”. Dahin
bersahut “sok kamu, awas aja nanti kalau tak bisa mengerjakan”.
Bunyi
bel berdering dengan kencang, tanda masuk dan dimulainya pelajaran.
Guru
masuk ruangan dan memulai “Baik, anak-anak siapkan alat tulis kalian di atas
meja”. Banyak murid bersahutan “Siap pak guru!”. Pak guru membagikan lembar
soal bersertakan dengan lembar jawabannya, dengan berkata “oke, silahkan
dimulai, dan dahulukan dengan berdoa”.
Suasana
sunyisenyap sangat diarasai, oleh masing-masing setiap murid yang berkutat
dengan soal-soal dan menjawabnya. Tapi Haserun merasa sangat risau sendirian,
dan bergumam “Duh...apa ya...duh”. Dahin melirik ada yang tidak beres sambil
berbisik “Kenapa run? Kau bisa mengerjakannya bukan?”. Bersahut Haserun “Tidak
bisa aku menjawab tiap-tiap pertanyaan pada soal yang diberikan,
Dah...duh...bagaimana ini?...belum satu soal pun yang kutulis, sedang waktunya
sedikit lagi habis”. Dahin bereaksi dengan menepuk keningnya sendiri, sambil
berkata “Ya ampun”.
Waktu
ujian selesai dan lembar jawaban dikumpulkan. Kemudian pak Guru melihat salah
satu kertas yang tidak dibubuhi jawaban samasekali, dilihatnya lembar kertas
itu dan berkata “Haserun...mengapa lembar jawabanmu kosong?”. Haserun menjawab
dengan cemas dan kikuk “Ma..ma..aaff pak, saya belum tahu mau memberi jawaban
apa...karena saya tidak membaca..”. Pak Guru berkata “Esok panggil orang tuamu
menghadap bapak, mengerti?!”. Haserun dengan lunglai dan pasrah “iya pak,
segera”.
**
Hari
ini perwakilan orangtua dari Haserun dipanggil, untuk menemui Pak Guru. Ibunya
lah yang berangkat untuk menemui Pak Guru, karena Bapak Haserun mestilah
berkerja demi mengepulnya asap di dapur mereka.
Setibanya
Ibu Haserun di sekolah, langsung masuk dan menemui Pak Guru. Pak Guru memulai
“Saya hendak bertanya kepada Ibu, mengapa bisa terjadi Haserun mengalami
kondisi buruk seperti ini?”. Bersahut sang Ibu “Buruk?...apa yang dimaksud
dengan Pak Guru?”. Pak Guru menjawab “Iya, Haserun mempunyai nilai yang sangat
buruk jauh dari teman-teman sebayanya, pada saat diadakan tes, Haserun tidak
bisa menjawab salah satu nomor dari soal yang saya berikan, apakah Ibu selaku
orangtua dari Haserun sering menemani dan memperingatkannya untuk belajar?. Menjawab
Ibu Haserun dengan kikuk “ Maaf pak...saya tidak pernah memperingatkan, atau
pun menemani Haserun belajar pak...karena saya dan suami sibuk dengan tempat
kerja kami di pabrik, karena keadaan kondisi pabrik yang setiap harinya sibuk,
tetapi saya sering sekali membelikan buku-buku untuk dia baca...”. Pak Guru
memotong “Tetapi percuma kalau Ibu sendiri terus membeli buku, juga tidak
dibaca oleh anak ibu sendiri”. Ibu Haserun bersahut “Saya juga paham dengan
kondisi seperti ini pak, dengan kurangnya pengawasan yang kami lakukan terhadap
Haserun, mungkin sekarang kami selaku orangtua akan memberikan penyuluhan
kepada anak kami, untuk bisa belajar lebih giat dan baik”.
Percakapan
pada saat itu menemukan solusi, yang akhirnya Ibu Haserun tidak lagi bekerja di
pabrik bersama suaminya, dan ingin menemani Haserun saat ia berada di rumah.
**
Pada
suatu malam, Haserun bersama Ibu duduk di kursi yang diterangi oleh sebuah
pelita yang tergeletak di atas meja, Ibu Haserun memulai “Nak, kau lihat pelita
yang menyala itu?”. Haserun tertegun, lalu menjawab “Iya bu, pelita itu
menerangi malam kita yang gelap dan dingin”. Ibu memulai kembali “Ibu ingin kau
seperti pelita itu, nak”. Haserun tak mengerti maksud apa yang diinginkan
ibunya, dan bertanya “Kok saya jadi pelita, bu?...saya kan tidak mempunyai
sumbu untuk dibakar, bu...ibu senang aku jadi pelita yang terbakar, dan ibu mau
aku terbakar?”. Ibunya heran dan menjawab “Hah, ya tidak harus jadi seperti itu
juga, nak....yang ibu maksud dengan pelita yaitu, pabila kamu sering membaca,
kamu dapat mengetahui berbagai macam pengetahuan dan informasi yang sebelumnya
kamu tidak mengerti, menjadi mengerti, dan itu bisa menjadi seperti pelita,
yang bisa menerangi dirimu sendiri, dalam gelap yang dingin, malah juga kamu
bisa menerangi kegelapan yang dialami oleh setiap orang yang ada disekitarmu,
maksud ibu seperti itu, nak”. Haserun menjawab “Oh, seperti itu bu,
heheh...maaf ya bu, selama ini, aku tidak membaca buku yang selama ini sering
engkau berikan kepadaku, mulai sekarang saya akan memperbaiki kebiasaan buruk
ini menjadi kebiasaan baik untuk diriku sendiri, dan mungkin saya juga bisa
menjadi seperti pelita yang ibu maksud”. Ibu tersenyum, dan mendekap Haserun
seraya berkata “Membacalah nak, terang bersamamu”.
TAMAT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar