Masyarakat “Ada”
Oleh : Ichsan Nurseha
Abad
21 merupakan abad yang paling disanjung dan dipuja-puja, bagaimana tidak ?,
manusia di abad ini semakin selektif dan juga semakin cerdas, seiring
bertumbuh-kembangnya peradaban di segala bidang maupun itu dalam hal; berpikir,
belajar, dan bekerja. Apa pun hasil kerjanya haruslah memberikan efek atau
impresi yang setimpal bagi dirinya, jika tidak mana berkenan untuk melakukan?.
Segala tindak-tanduknya dipelajari agar tidak rugi di kemudian harinya, segala
macam cara dipelajari agar tidak tertinggal dan selalu ambil peran dalam
membangun suatu peradaban, demi nama baik apapun itu harus dilakukan, dan
mereka yang berani mengganggu bersiap-siaplah untuk segera disingkirkan dan
dimusnahkan. Karena pada hakikatnya hidup bagi mereka adalah perhitungan
berdasarkan kebendaan(materialisme) jika ada benda mereka bisa hidup, dengan
ada benda mereka semua mempunyai eksistensi, dengan ada benda mereka akan
gembira dan tidak pernah putus asa, dan masih ada beraneka ragam kesenangan
lainnya yang disebabkan “benda” ini.
Sejak
di bangku sekolah mereka lebih dulu dikenalkan dan diajarkan untuk melihat
angka-angka sebagai acuan untuk menentukan mana yang benar dan buruk, mana yang
baik dan yang salah, semuanya itu ditentukan oleh “angka”. Sebuah tim
sepakbola akan menang jika papan skornya menunjukkan angka yang dimilikinya
lebih besar ketimbang lawannya sendiri. Dalam angka juga kita sudah dibentuk
untuk menjadi manusia yang pandai berhitung, berhitung kepada kawan, teman,
lawan, dan juga peradaban, segala macam bentuk kehidupan angka tidak pernah
luput dan tidak pernah ketinggalan. Angka harus hadir dalam segala macam
bidang, jika dalam hidup mereka “angka” tidak ada dan tidak hadir, bukan
main paniknya, berapa modal yang harus menutup lubang kerugian yang terjadi,
berapa macam keuntungan yang harusnya datang dan menemani hidup. Juga di dalam
perkuliahan di Negeri ini, tingkat kelulusan akhirnya ditentukan baik buruknya
dan tindak-tanduknya melalui “angka”.
Hingga
kini segala macam lini kehidupan selalu berkaitan dengan “angka” dan “benda”.
Di jalan sering kita melihat orang-orang sedari subuh sampai menjelang senja
berbondong-bondong mencari “benda”. Karena dari “benda” ini
mereka dapat pengakuan bahwa hidupnya tidaklah remeh-temeh dan tidak mau di cap
sebagai manusia “kere”. Seiring maju dan berkembangnya peradaban yang
lebih menonjol di bidang “gaya hidup” masyarakat lebih konsumtif dan
tidak perlu memerhatikan pengeluaran, tidak perlu melulu berhemat , dan akan
selalu mengikuti derasnya arus zaman yang mengalir, mengikutinya adalah salah
satu kewajiban yang harus dan sangat disangksikan untuk ditinggali, karena
dengan begitu mereka “ada” dan mereka mendapatkan ruang untuk berkumpul
dan merumuskan cita-cita di masa depan.
Ironinya
kini kebanyakan dari masyarakat masa kini ialah hanya menjadi kebanyakan
pengguna, tidak berusaha untuk melakukan ataupun membuat sebuah gagasan baru,
menjadi pengguna tidak lah sangat buruk. Generasi ini juga menjadi sangat
konyol ketika dihadapkan pada suatu masalah inginnya diselesaikan secara
buru-buru, instant, dan harus serba cepat. Hilangnya rasa ingin tahu yang
berlebih, tak ada penelitian atau apapun lainnya, yang penting hidup enak dan
gembira. Tidak memberikan ruang pada proses dan perjuangan, karena hidup yang
baik bagi mereka ialah harus cepat dan pekerjaan selesai, jika sudah selesai
tidak ada lagi yang harus diperhatikan. Menumpulkan sifat kritisi menjadi
apatis terhadap segala macam yang ada di sekelilingnya, dan berpusat selalu
pada dirinya(egosentrisme).
Begitulah
mungkin, sedikit gambaran tentang peradaban abad-21 ketika manusia sudah tidak
terlalu perduli pada proses untuk menempuh pelbagai macam tujuan.