Total Tayangan Halaman

Sabtu, 15 Juli 2017

Masyarakat Ada

Masyarakat “Ada”

Oleh : Ichsan Nurseha

            Abad 21 merupakan abad yang paling disanjung dan dipuja-puja, bagaimana tidak ?, manusia di abad ini semakin selektif dan juga semakin cerdas, seiring bertumbuh-kembangnya peradaban di segala bidang maupun itu dalam hal; berpikir, belajar, dan bekerja. Apa pun hasil kerjanya haruslah memberikan efek atau impresi yang setimpal bagi dirinya, jika tidak mana berkenan untuk melakukan?. Segala tindak-tanduknya dipelajari agar tidak rugi di kemudian harinya, segala macam cara dipelajari agar tidak tertinggal dan selalu ambil peran dalam membangun suatu peradaban, demi nama baik apapun itu harus dilakukan, dan mereka yang berani mengganggu bersiap-siaplah untuk segera disingkirkan dan dimusnahkan. Karena pada hakikatnya hidup bagi mereka adalah perhitungan berdasarkan kebendaan(materialisme) jika ada benda mereka bisa hidup, dengan ada benda mereka semua mempunyai eksistensi, dengan ada benda mereka akan gembira dan tidak pernah putus asa, dan masih ada beraneka ragam kesenangan lainnya yang disebabkan “benda” ini.

            Sejak di bangku sekolah mereka lebih dulu dikenalkan dan diajarkan untuk melihat angka-angka sebagai acuan untuk menentukan mana yang benar dan buruk, mana yang baik dan yang salah, semuanya itu ditentukan oleh “angka”. Sebuah tim sepakbola akan menang jika papan skornya menunjukkan angka yang dimilikinya lebih besar ketimbang lawannya sendiri. Dalam angka juga kita sudah dibentuk untuk menjadi manusia yang pandai berhitung, berhitung kepada kawan, teman, lawan, dan juga peradaban, segala macam bentuk kehidupan angka tidak pernah luput dan tidak pernah ketinggalan. Angka harus hadir dalam segala macam bidang, jika dalam hidup mereka “angka” tidak ada dan tidak hadir, bukan main paniknya, berapa modal yang harus menutup lubang kerugian yang terjadi, berapa macam keuntungan yang harusnya datang dan menemani hidup. Juga di dalam perkuliahan di Negeri ini, tingkat kelulusan akhirnya ditentukan baik buruknya dan tindak-tanduknya melalui “angka”.

            Hingga kini segala macam lini kehidupan selalu berkaitan dengan “angka” dan “benda”. Di jalan sering kita melihat orang-orang sedari subuh sampai menjelang senja berbondong-bondong mencari “benda”. Karena dari “benda” ini mereka dapat pengakuan bahwa hidupnya tidaklah remeh-temeh dan tidak mau di cap sebagai manusia “kere”. Seiring maju dan berkembangnya peradaban yang lebih menonjol di bidang “gaya hidup” masyarakat lebih konsumtif dan tidak perlu memerhatikan pengeluaran, tidak perlu melulu berhemat , dan akan selalu mengikuti derasnya arus zaman yang mengalir, mengikutinya adalah salah satu kewajiban yang harus dan sangat disangksikan untuk ditinggali, karena dengan begitu mereka “ada” dan mereka mendapatkan ruang untuk berkumpul dan merumuskan cita-cita di masa depan.
           
             Ironinya kini kebanyakan dari masyarakat masa kini ialah hanya menjadi kebanyakan pengguna, tidak berusaha untuk melakukan ataupun membuat sebuah gagasan baru, menjadi pengguna tidak lah sangat buruk. Generasi ini juga menjadi sangat konyol ketika dihadapkan pada suatu masalah inginnya diselesaikan secara buru-buru, instant, dan harus serba cepat. Hilangnya rasa ingin tahu yang berlebih, tak ada penelitian atau apapun lainnya, yang penting hidup enak dan gembira. Tidak memberikan ruang pada proses dan perjuangan, karena hidup yang baik bagi mereka ialah harus cepat dan pekerjaan selesai, jika sudah selesai tidak ada lagi yang harus diperhatikan. Menumpulkan sifat kritisi menjadi apatis terhadap segala macam yang ada di sekelilingnya, dan berpusat selalu pada dirinya(egosentrisme).


            Begitulah mungkin, sedikit gambaran tentang peradaban abad-21 ketika manusia sudah tidak terlalu perduli pada proses untuk menempuh pelbagai macam tujuan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar