Total Tayangan Halaman

Selasa, 02 Januari 2018

Air Terjun Desa Batulayang

Air Terjun Desa Batulayang

Oleh : Ichsan Nurseha


            Rutinitas di kota dengan warna-warna lampunya yang mampu membuat penat dan jemu dengan segalamacam kesibukan-kesibukan yang ada di dalamnya membuat saya berpikir untuk menghilang dari segalamacam bentuk warna-warna kesibukan yang ada. Dalam pikiran, saya bingung duduk termenung memikirkan dan memutuskan ke mana kah saya harus mencari udara yang begitu murni terlepas dari segalamacam bentuk polusi.
            Akhirnya ketika sepuluh sampai tigapuluh menit, pikiran ini membuahkan anak kecil yang meminta dan memutuskan diri saya untuk pergi ke salahsatu daerah di sekitar Bogor lebih tepatnya di kawasan Cibeurial, Desabatulayang. Sudah lama sekali saya juga tidak pernah ke sana, walaupun kalau ke sana hanya sekedar minum kopi dan menikmati suguhan semangkuk mie instant melebur dengan udara yang penuh gigil, juga untuk memupuk terus tunas-tunas silaturahmi dengan masyarakat setempat.
            Untuk sampai ke tempat tujuan memang tersedia banyak alternatif, bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi dan juga bisa ditempuh dengan kendaraan masal(angkutan umum). Terlebih menggunakan kendaraan pribadi memakan waktu dan ongkos jalan yang tidak terlalu mahal, saya pergi bersama satu orang kawan saya menggunakan kendaraan pribadinya(baca: motor). Perjalanan ditempuh kuranglebih memakan waktu 3-4 jam, saya memulai perjalanan saya dari Cengkareng. Dan, biasanya saya berjalan ke sana lebih gemar dilakukan pada saat malam hari ketika suasana jalanan kota yang sedikit terbebas dari kekangan kemacetan. Ketika 4 jam sudah terlalui sampailah akhirnya saya sampai di tempat tujuan, karena saya sampai pada malam hari banyak dari penduduk sekitar yang sudah beristirahat, dan saya terpaksa beristirahat juga di dalam musholla yang berada tak jauh dari kawasan tersebut.
            Paginya, ketika subuh telah selesai, saya dan teman saya mengunjungi dan sowan kepada salahsatu penduduk yang berada di Desabatulayang, dia sering dipanggil Mang Ade, beliau merupakan salahsatu orang yang turut mengembangkan Desabatulayang tersebut menjadi kawasan pariwisata karena di sana terdapat satu mata air yang besar dengan kecantikannya yang menawan. Lalu ketika sudah bertemu Mang Ade saya langsung memutuskan untuk langsung pergi menuju air terjun tersebut. Jalan atau jalur untuk sampai menuju ke kawasan air terjun masih sangat murni dan samasekali belum terkena campur tangan manusia. Pertama-tama kita ditawarkan oleh kebun-kebun dan pohon-pohon yang rindang lebat dengan daunnya, hingga akhirnya kita harus menyebrangi beberapa anak sungai yang arusnya sangat deras, di dalam menempuh anak sungai ini kita harus mempunyai kuda-kuda yang sangat kuat supaya terhindar dari seretan arus tersebut. Perjalanan menuju air terjun tersebut kurang lebih memakan waktu 30-60 menit ditambah dengan jalurnya yang kadang-kadang naik-turun. Untungnya pada saat waktu saya menyusuri hujan tidak turun, kalau hujan turun biasanya pendatang-pendatang harus mengurungkan niatnya masing-masing.


            Ketika kita sampai di tujuan, kita langsung diperlihatkan air terjun yang gagah dengan berisiknya bunyi air yang berlomba-lomba jatuh sehingga ketika kita ingin bicara harus diperbesar nada bicara kita agar komunikasi tetap terjaga. Di sini terdapat dua air terjun yang posisinya jika di lihat dari atas membentuk posisi segitiga, yang konon di tiap masing-masing air terjun ini terdapat salah penghuni yakni Pangeran yang rupawan dan Ratu yang cantik di sisi lainnya, yang melambangkan suatu hubungan yang dijalani di satu tempat, dan para penduduk sekitar mengatakan air terjun itu ialah tempat keramat “jika ada dari kalian yang belum memiliki pasangan, lalu kalian mandi di tempat itu, maka sepulang dari sini dalam waktu yang tidak ditentukan kalian bakal mendapatkan pasangan” begitu lah menurut kepercayaan masyarakat setempat.