Air Terjun Desa Batulayang
Oleh : Ichsan Nurseha
Rutinitas
di kota dengan warna-warna lampunya yang mampu membuat penat dan jemu dengan
segalamacam kesibukan-kesibukan yang ada di dalamnya membuat saya berpikir
untuk menghilang dari segalamacam bentuk warna-warna kesibukan yang ada. Dalam
pikiran, saya bingung duduk termenung memikirkan dan memutuskan ke mana kah
saya harus mencari udara yang begitu murni terlepas dari segalamacam bentuk
polusi.
Akhirnya
ketika sepuluh sampai tigapuluh menit, pikiran ini membuahkan anak kecil yang
meminta dan memutuskan diri saya untuk pergi ke salahsatu daerah di sekitar
Bogor lebih tepatnya di kawasan Cibeurial, Desabatulayang. Sudah lama sekali
saya juga tidak pernah ke sana, walaupun kalau ke sana hanya sekedar minum kopi
dan menikmati suguhan semangkuk mie instant melebur dengan udara yang penuh
gigil, juga untuk memupuk terus tunas-tunas silaturahmi dengan masyarakat
setempat.
Untuk
sampai ke tempat tujuan memang tersedia banyak alternatif, bisa ditempuh
menggunakan kendaraan pribadi dan juga bisa ditempuh dengan kendaraan
masal(angkutan umum). Terlebih menggunakan kendaraan pribadi memakan waktu dan
ongkos jalan yang tidak terlalu mahal, saya pergi bersama satu orang kawan saya
menggunakan kendaraan pribadinya(baca: motor). Perjalanan ditempuh kuranglebih
memakan waktu 3-4 jam, saya memulai perjalanan saya dari Cengkareng. Dan,
biasanya saya berjalan ke sana lebih gemar dilakukan pada saat malam hari
ketika suasana jalanan kota yang sedikit terbebas dari kekangan kemacetan.
Ketika 4 jam sudah terlalui sampailah akhirnya saya sampai di tempat tujuan,
karena saya sampai pada malam hari banyak dari penduduk sekitar yang sudah
beristirahat, dan saya terpaksa beristirahat juga di dalam musholla yang berada
tak jauh dari kawasan tersebut.
Paginya,
ketika subuh telah selesai, saya dan teman saya mengunjungi dan sowan kepada
salahsatu penduduk yang berada di Desabatulayang, dia sering dipanggil Mang
Ade, beliau merupakan salahsatu orang yang turut mengembangkan Desabatulayang
tersebut menjadi kawasan pariwisata karena di sana terdapat satu mata air yang
besar dengan kecantikannya yang menawan. Lalu ketika sudah bertemu Mang Ade
saya langsung memutuskan untuk langsung pergi menuju air terjun tersebut. Jalan
atau jalur untuk sampai menuju ke kawasan air terjun masih sangat murni dan
samasekali belum terkena campur tangan manusia. Pertama-tama kita ditawarkan
oleh kebun-kebun dan pohon-pohon yang rindang lebat dengan daunnya, hingga
akhirnya kita harus menyebrangi beberapa anak sungai yang arusnya sangat deras,
di dalam menempuh anak sungai ini kita harus mempunyai kuda-kuda yang sangat
kuat supaya terhindar dari seretan arus tersebut. Perjalanan menuju air terjun
tersebut kurang lebih memakan waktu 30-60 menit ditambah dengan jalurnya yang
kadang-kadang naik-turun. Untungnya pada saat waktu saya menyusuri hujan tidak
turun, kalau hujan turun biasanya pendatang-pendatang harus mengurungkan
niatnya masing-masing.
Ketika
kita sampai di tujuan, kita langsung diperlihatkan air terjun yang gagah dengan
berisiknya bunyi air yang berlomba-lomba jatuh sehingga ketika kita ingin
bicara harus diperbesar nada bicara kita agar komunikasi tetap terjaga. Di sini
terdapat dua air terjun yang posisinya jika di lihat dari atas membentuk posisi
segitiga, yang konon di tiap masing-masing air terjun ini terdapat salah
penghuni yakni Pangeran yang rupawan dan Ratu yang cantik di sisi lainnya, yang
melambangkan suatu hubungan yang dijalani di satu tempat, dan para penduduk
sekitar mengatakan air terjun itu ialah tempat keramat “jika ada dari kalian
yang belum memiliki pasangan, lalu kalian mandi di tempat itu, maka sepulang
dari sini dalam waktu yang tidak ditentukan kalian bakal mendapatkan pasangan”
begitu lah menurut kepercayaan masyarakat setempat.


