Total Tayangan Halaman

Sabtu, 25 Februari 2017

Sekelebat Pandangku

Sekelebat Pandangku.

Oleh : PekikkanJemari

            SAAT SORE menggema langit pucat juga awan-awan yang mengepul bagai kapas maupun kembang gula, tetapi tidak memuncratkan airnya ke bawah, hanya angin yang genit selalu ingin tabrak-menabraki manusia yang lelah selepas menjalani kegiatan rutinitasnya mencari nafkah untuk orang-orang yang disayanginya. Aku berada di muka stasuin kereta yang hendak kuhampiri untuk menuju rumah sehabis menguras waktu bersama teman-teman.

            Kerumunan orang sering kujumpai setelah masuk pintu gerbang stasiun, sehabis itu aku memekik kepada juru layan untuk membeli karcis kereta yang akan kusinggahi tuk beberapa menit “St. Rawa Buaya satu, Mas”. Ia membalas pekikanku “13.000”  juru layan di loket langsung menyodorkanku sebuah tiket yang lalu langsung kucengkram erat-erat tiket itu.

            Masuk peron, langit masih pucat dengan ciri khasnya masih dengan awan kelam layaknya kembang gula tanpa meneteskan airnya ke bumi yang pongah. Aku melihat paras-paras robot yang lelah, lemah, karena sedari pagi mereka bersusah-payah. Tigabelas menit kereta baru mengahmpiri, Aku masuk, terdapat bangku panjang yang berwarna biru sangat didominasi di gerbong itu, lampu neon dengan gagahnya memekikkan sinarnya tanpa malu-malu kepada siapa saja. Di atas kepalaku berjejal penyanggah yang terbuat dari besi alumunium yang tersusun rapih seperti jemuran di rumah yang dimiliki oleh ibu.

            Kuhela napas, sambil memeluk tas dan kupangku di atas pahaku. Daguku dipapah oleh tas yang begitu beratnya. Kemudian aku syak, pandangku dipapaskan dengan wanita berbalut busana rapat tetapi tidak ketat, begitu longgar dan nyaman untuk para kaum hawa dengan warna kuning cerah bak matari pagi. Ditambah dengan aksen kaca mata yang menyangguli hidung mancungnya, air mukanya jernih, bersih, dan ada sedikit gula-gula berserakan di wajahnya, bulu matanya yang tebal menandakan ia seorang yang sangat bersahaja. Tatapnya kini kurasai. Aku tak berani memulai percakapan kosong yang terus membanjiri hati. Rasa skpetisme yang berlebihan yang biasanya aku lontarkan kepada teman-teman pada saat presentasi di waktu kuliah, kini lidahku tak ingin dan begitu sangat dingin, tak bergerak. Lidahku matisuri. Hanya mata yang bisa berbicara pada saat itu. Lirik-melirik kemayu sangat jelas kurasai, apakah mungkin ia merasakannya juga?.

            Untuk menuju St. Rawa Buaya masih perlu melewati 4 stasiun lagi. Dan perasaanku makin menggebu ketika didukung dengan suasana kereta yang mirip seperti kuburan, semua manusia gemar memasukan benda asing ke dua lubang kupingnya untuk menemukan kegembiraan, di saat menutup satu hari yang sangat lelah. Aku merasa rikuh, dan tak jelas arah seperti tersesat di hutan penuh dengan berbagai  macam teka-teki yang akhirnya akan membuatku masuk ke jurang tanpa ranum.

            Tetapi, perasaan itu kini seperti atap lapuk, yang sudah didiami oleh para pemiliknya tanpa pernah dirawatnya hingga pada suatu saat hujan turun air masuk dan membanjiri ruangan itu. Di sebelahnya terdapat kekasihnya, yang setiap kali mengulum tangannya tanpa ampun. Kini penglihatanku kuusahakan untuk tidak lagi memandangnya, kucoba mengalihkan pandangku ke jendela luar yang menyuguhkan panorama-panorama alam, tetapi sayang begitu malang kejadian ini untuk melayang apalagi dikenang!. Aku tertarik kembali oleh paras mukanya, begitu juga dengan ia. Seperti ada magnet yang terpatri di dalam mataku dan matanya, yang menemukan sumbu utara dan selatan yang selalu melekat dan juga inheren.


            Tak berasa St. Rawa Buaya dekat sekali denganku, dan memaksaku untuk mengambil posisi berdiri untuk keluar dari gerbong, menuju peron St. Rawa Buaya. Ketika sampai di peron suasana hatiku seperti biasa. Tak ada lagi kuning matari yang menyinari hatiku seperti saat tadi pada saat di dalam gerbong. Langit makin tidak ranum, awan mendung kini hadir lebih dominan, kemudian gerimis menyusul kemudian, tak lupa juga hujan di belakangnya.