Total Tayangan Halaman

Selasa, 02 Januari 2018

Air Terjun Desa Batulayang

Air Terjun Desa Batulayang

Oleh : Ichsan Nurseha


            Rutinitas di kota dengan warna-warna lampunya yang mampu membuat penat dan jemu dengan segalamacam kesibukan-kesibukan yang ada di dalamnya membuat saya berpikir untuk menghilang dari segalamacam bentuk warna-warna kesibukan yang ada. Dalam pikiran, saya bingung duduk termenung memikirkan dan memutuskan ke mana kah saya harus mencari udara yang begitu murni terlepas dari segalamacam bentuk polusi.
            Akhirnya ketika sepuluh sampai tigapuluh menit, pikiran ini membuahkan anak kecil yang meminta dan memutuskan diri saya untuk pergi ke salahsatu daerah di sekitar Bogor lebih tepatnya di kawasan Cibeurial, Desabatulayang. Sudah lama sekali saya juga tidak pernah ke sana, walaupun kalau ke sana hanya sekedar minum kopi dan menikmati suguhan semangkuk mie instant melebur dengan udara yang penuh gigil, juga untuk memupuk terus tunas-tunas silaturahmi dengan masyarakat setempat.
            Untuk sampai ke tempat tujuan memang tersedia banyak alternatif, bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi dan juga bisa ditempuh dengan kendaraan masal(angkutan umum). Terlebih menggunakan kendaraan pribadi memakan waktu dan ongkos jalan yang tidak terlalu mahal, saya pergi bersama satu orang kawan saya menggunakan kendaraan pribadinya(baca: motor). Perjalanan ditempuh kuranglebih memakan waktu 3-4 jam, saya memulai perjalanan saya dari Cengkareng. Dan, biasanya saya berjalan ke sana lebih gemar dilakukan pada saat malam hari ketika suasana jalanan kota yang sedikit terbebas dari kekangan kemacetan. Ketika 4 jam sudah terlalui sampailah akhirnya saya sampai di tempat tujuan, karena saya sampai pada malam hari banyak dari penduduk sekitar yang sudah beristirahat, dan saya terpaksa beristirahat juga di dalam musholla yang berada tak jauh dari kawasan tersebut.
            Paginya, ketika subuh telah selesai, saya dan teman saya mengunjungi dan sowan kepada salahsatu penduduk yang berada di Desabatulayang, dia sering dipanggil Mang Ade, beliau merupakan salahsatu orang yang turut mengembangkan Desabatulayang tersebut menjadi kawasan pariwisata karena di sana terdapat satu mata air yang besar dengan kecantikannya yang menawan. Lalu ketika sudah bertemu Mang Ade saya langsung memutuskan untuk langsung pergi menuju air terjun tersebut. Jalan atau jalur untuk sampai menuju ke kawasan air terjun masih sangat murni dan samasekali belum terkena campur tangan manusia. Pertama-tama kita ditawarkan oleh kebun-kebun dan pohon-pohon yang rindang lebat dengan daunnya, hingga akhirnya kita harus menyebrangi beberapa anak sungai yang arusnya sangat deras, di dalam menempuh anak sungai ini kita harus mempunyai kuda-kuda yang sangat kuat supaya terhindar dari seretan arus tersebut. Perjalanan menuju air terjun tersebut kurang lebih memakan waktu 30-60 menit ditambah dengan jalurnya yang kadang-kadang naik-turun. Untungnya pada saat waktu saya menyusuri hujan tidak turun, kalau hujan turun biasanya pendatang-pendatang harus mengurungkan niatnya masing-masing.


            Ketika kita sampai di tujuan, kita langsung diperlihatkan air terjun yang gagah dengan berisiknya bunyi air yang berlomba-lomba jatuh sehingga ketika kita ingin bicara harus diperbesar nada bicara kita agar komunikasi tetap terjaga. Di sini terdapat dua air terjun yang posisinya jika di lihat dari atas membentuk posisi segitiga, yang konon di tiap masing-masing air terjun ini terdapat salah penghuni yakni Pangeran yang rupawan dan Ratu yang cantik di sisi lainnya, yang melambangkan suatu hubungan yang dijalani di satu tempat, dan para penduduk sekitar mengatakan air terjun itu ialah tempat keramat “jika ada dari kalian yang belum memiliki pasangan, lalu kalian mandi di tempat itu, maka sepulang dari sini dalam waktu yang tidak ditentukan kalian bakal mendapatkan pasangan” begitu lah menurut kepercayaan masyarakat setempat.



Sabtu, 15 Juli 2017

Masyarakat Ada

Masyarakat “Ada”

Oleh : Ichsan Nurseha

            Abad 21 merupakan abad yang paling disanjung dan dipuja-puja, bagaimana tidak ?, manusia di abad ini semakin selektif dan juga semakin cerdas, seiring bertumbuh-kembangnya peradaban di segala bidang maupun itu dalam hal; berpikir, belajar, dan bekerja. Apa pun hasil kerjanya haruslah memberikan efek atau impresi yang setimpal bagi dirinya, jika tidak mana berkenan untuk melakukan?. Segala tindak-tanduknya dipelajari agar tidak rugi di kemudian harinya, segala macam cara dipelajari agar tidak tertinggal dan selalu ambil peran dalam membangun suatu peradaban, demi nama baik apapun itu harus dilakukan, dan mereka yang berani mengganggu bersiap-siaplah untuk segera disingkirkan dan dimusnahkan. Karena pada hakikatnya hidup bagi mereka adalah perhitungan berdasarkan kebendaan(materialisme) jika ada benda mereka bisa hidup, dengan ada benda mereka semua mempunyai eksistensi, dengan ada benda mereka akan gembira dan tidak pernah putus asa, dan masih ada beraneka ragam kesenangan lainnya yang disebabkan “benda” ini.

            Sejak di bangku sekolah mereka lebih dulu dikenalkan dan diajarkan untuk melihat angka-angka sebagai acuan untuk menentukan mana yang benar dan buruk, mana yang baik dan yang salah, semuanya itu ditentukan oleh “angka”. Sebuah tim sepakbola akan menang jika papan skornya menunjukkan angka yang dimilikinya lebih besar ketimbang lawannya sendiri. Dalam angka juga kita sudah dibentuk untuk menjadi manusia yang pandai berhitung, berhitung kepada kawan, teman, lawan, dan juga peradaban, segala macam bentuk kehidupan angka tidak pernah luput dan tidak pernah ketinggalan. Angka harus hadir dalam segala macam bidang, jika dalam hidup mereka “angka” tidak ada dan tidak hadir, bukan main paniknya, berapa modal yang harus menutup lubang kerugian yang terjadi, berapa macam keuntungan yang harusnya datang dan menemani hidup. Juga di dalam perkuliahan di Negeri ini, tingkat kelulusan akhirnya ditentukan baik buruknya dan tindak-tanduknya melalui “angka”.

            Hingga kini segala macam lini kehidupan selalu berkaitan dengan “angka” dan “benda”. Di jalan sering kita melihat orang-orang sedari subuh sampai menjelang senja berbondong-bondong mencari “benda”. Karena dari “benda” ini mereka dapat pengakuan bahwa hidupnya tidaklah remeh-temeh dan tidak mau di cap sebagai manusia “kere”. Seiring maju dan berkembangnya peradaban yang lebih menonjol di bidang “gaya hidup” masyarakat lebih konsumtif dan tidak perlu memerhatikan pengeluaran, tidak perlu melulu berhemat , dan akan selalu mengikuti derasnya arus zaman yang mengalir, mengikutinya adalah salah satu kewajiban yang harus dan sangat disangksikan untuk ditinggali, karena dengan begitu mereka “ada” dan mereka mendapatkan ruang untuk berkumpul dan merumuskan cita-cita di masa depan.
           
             Ironinya kini kebanyakan dari masyarakat masa kini ialah hanya menjadi kebanyakan pengguna, tidak berusaha untuk melakukan ataupun membuat sebuah gagasan baru, menjadi pengguna tidak lah sangat buruk. Generasi ini juga menjadi sangat konyol ketika dihadapkan pada suatu masalah inginnya diselesaikan secara buru-buru, instant, dan harus serba cepat. Hilangnya rasa ingin tahu yang berlebih, tak ada penelitian atau apapun lainnya, yang penting hidup enak dan gembira. Tidak memberikan ruang pada proses dan perjuangan, karena hidup yang baik bagi mereka ialah harus cepat dan pekerjaan selesai, jika sudah selesai tidak ada lagi yang harus diperhatikan. Menumpulkan sifat kritisi menjadi apatis terhadap segala macam yang ada di sekelilingnya, dan berpusat selalu pada dirinya(egosentrisme).


            Begitulah mungkin, sedikit gambaran tentang peradaban abad-21 ketika manusia sudah tidak terlalu perduli pada proses untuk menempuh pelbagai macam tujuan. 

Jumat, 03 Maret 2017

Membacalah, Terang Bersamamu.

Membacalah, Terang Bersamamu.

Oleh : Pekikkan Jemari



            Pada suatu waktu, terdapat perkampungan kecil, tepatnya  Desa Fufukilan, yang daerah sekitarnya terdapat banyak bukit-bukit yang dihinggapi banyak semak dan pepohonan-pepohonan hijau yang tinggi menjulang ke atas bersama cicau-cicau burung bersahutan hinggap di dahan pohon tersebut membangun sarang, jernihnya air sungai beserta dengan desis gemericiknya, yang takkan pernah berhenti mengalir dan memberikan senyuman kepada siapa saja yang menikmati alamnya. Tetapi pada saat malam hari, desa tersebut hanya diterangi oleh sekumpulan obor-obor di tiap-tiap rumahnya, di mana pada saat itu belum ada lampu atau pun listrik untuk bisa menemani kelangsungan hidup bagi masyarakat setempat. Walau pun begitu, daerah tersebut sangat asri nan elok dipandang, sehingga seluruh masyarakat desa tersebut tinggal dengan damai dan bersahaja.
            Terdapat dari sekian banyak masyarakat yang membangun rumah panggungnya dengan bilik-bilik bambu, dengan beratapkan ijuk atau pun serat-serat jerami untuk melindunginya dari sinar matahari, juga terpaan hujan yang menderu.
            Di suatu rumah panggung terdapat suatu keluarga dengan tiga orang yakni, beranggotakan Bapak, Ibu, dan juga satu anak laki-laki yang bernama Haserun. Bapak Ibunya berkerja sebagai buruh di suatu pabrik tembakau yang dikelola secara bersama-sama dengan seluruh masyarakat di Desa Fufukilan, jika panen tembakau sedang dalam masa puncaknya dan menghasilkan banyak sekali keuntungan, kedua orangtua dari Haserun seringkali membelikannya oleh-oleh dari hasil jerih payahnya yakni, buku. Tetapi pada setiap waktu dibelikan, Haserun hanya menerimanya saja dengan senyuman, dan kemudian diletakkan begitu saja tanpa pernah menoleh dan berkutat dengan buku tersebut tadi. Haserun merupakan putra satu-satunya yang dimiliki oleh kedua orangtuanya, maka dari itu kedua orangtuanya sangat sayang kepada Haserun. Haserun bocah laki-laki yang gemar bermain dan sering melakukan hal-hal aneh, dia juga sangat malas. Haserun kini mengenyam pendidikan di bangku sekolah kelas 3 bersama dengan teman sebayanya, dia juga mempunyai teman karibnya yaitu, Dahin. Dahin merupakan perempuan berparas cantik pun pintar, karena Dahin gemar sekali membaca buku, dan paling menonjol pada bidang ilmu bumi, dibesarkan dari orangtuanya yang menggemari baca buku pula, sehingga menularkannya pada anaknya. Dahin dan Haserun tinggal bersampingan maka dari itu mereka berdua menjadi teman karib tetapi dengan banyak perbedaan menyelimuti mereka.
            Di sekolah, tepat di ruang kelasnya. Guru sedang menjelaskan tentang pelajaran ilmu bumi, tetapi pada suatu saat guru sedang menjelaskan Haserun tertidur lelap, karena semalam tidur teramat larut. Dahin yang menjadi teman sebangkunya menegurnya dengan bisikan “Run, run, bangun nanti kamu kena jewer oleh Pak Guru, run”. Haserun membalas “tenang, selama kau tenang, tidak akan ada yang menjewerku, apalagi Pak Guru itu”. Tiba-tiba Pak Guru menoleh, dan melihat ada salah seorang siswa yang kelihatan tidak mengikuti pelajarannya dengan baik, sontak guru itu membangunkan Haserun, digepraknya meja itu dengan penuh kesal. Praaaakk!!! meja digertakannya, Haserun kaget dengan berkata “Siapa yang geprak-geprak meja?!”. Lalu Haserun dengan kaget menatap paras Pak Guru yang dipenuhi dengan warna merah yang menyala di mukanya, Pak Guru menjawab “Saya yang geprak! Tidak suka kamu?! Kamu tidur saat saya menerangkan, kurang asem! sini berikan kau punya kuping!”. Terjadilah, dan dijewerlah Haserun, selaras dengan itu di ruangan bergemuruh mencemooh Haserun, “whooo, tidur kok di kelas....whooo”.
            Kemudian, bel tanda pulang berdering dan guru berkata “Jangan lupa kalian semua harus belajar, karena minggu depan akan diadakan tes, barang siapa yang tidak lulus akan dipanggil orang tuanya menghadap kepada bapak, mengerti anak-anak?”. Murid satu kelas menyaut dengan berbarengan “mengerti paaaaak”.
            Dalam perjalanan ke rumah seperti biasa Haserun pulang ditemani Dahin, ketika itu juga Dahin memulai “Run, mengapa kau tadi tidur pada saat Pak Guru menjelaskan pelajaran ?”. Dengan sedikit kikuk Haserun menanggapi dibarengi dengan menggaruk kepalanya “Iya, Dah, aku semalam tidur agak larut, karena aku mencoba dan menyeduh kopi bapak di rumah, selepas aku meneguknya sampai habis, efeknya pada malam itu mataku sangat menyala dan tidak merasa ngantuk, eh pas pagi-pagi baru terasa ngantuk, sekolah saja harus dibangunkan ibu, itu juga masih ngantuk, berat sekali sampai-sampai aku tidak bisa menahannya setiba sampai sekolah, malah sampai jam belajar berlangsung, hehehehe..”
            Dahin menanggapi “hufft....ada-ada saja perilakumu ya run, oiya...mengapa pada saat kamu begadang tidak kamu manfaatkan waktumu untuk membaca buku?”. Haserun menjawab “Aku tidak suka baca buku, Dah...rasanya penat yang menerpa begitu aku membaca buku”. Dahin hanya berkomentar “Yaudah deh...tapi kalau bisa usahakan membaca ya run, untuk ujian minggu depan nanti”. Haserun kini membalasnya dengan senyuman, dan mereka masuk ke dalam rumah masing-masing untuk beristirahat.


**


            Pada hari ini tepat seminggu waktu yang diberikan Pak Guru kepada murid-muridnya untuk belajar menghadapi tes. Dalam pagi hari yang cerah disertakan dengan bunyi burung-burung yang saling bercericau. Haserun dan Dahin berjalan menuju ke sekolah. Seperti biasa Dahin memulai “bagaimana run...kau sudah membaca dan belajar bukan?”. Haserun kali ini berbohong, berkata “sudah kok, semua buku sudah kubaca...tiap halaman...bagian, dan juga kelemahannya...hahahaha”. Dahin bersahut “sok kamu, awas aja nanti kalau tak bisa mengerjakan”.
            Bunyi bel berdering dengan kencang, tanda masuk dan dimulainya pelajaran.
            Guru masuk ruangan dan memulai “Baik, anak-anak siapkan alat tulis kalian di atas meja”. Banyak murid bersahutan “Siap pak guru!”. Pak guru membagikan lembar soal bersertakan dengan lembar jawabannya, dengan berkata “oke, silahkan dimulai, dan dahulukan dengan berdoa”.
           
Suasana sunyisenyap sangat diarasai, oleh masing-masing setiap murid yang berkutat dengan soal-soal dan menjawabnya. Tapi Haserun merasa sangat risau sendirian, dan bergumam “Duh...apa ya...duh”. Dahin melirik ada yang tidak beres sambil berbisik “Kenapa run? Kau bisa mengerjakannya bukan?”. Bersahut Haserun “Tidak bisa aku menjawab tiap-tiap pertanyaan pada soal yang diberikan, Dah...duh...bagaimana ini?...belum satu soal pun yang kutulis, sedang waktunya sedikit lagi habis”. Dahin bereaksi dengan menepuk keningnya sendiri, sambil berkata “Ya ampun”.
            Waktu ujian selesai dan lembar jawaban dikumpulkan. Kemudian pak Guru melihat salah satu kertas yang tidak dibubuhi jawaban samasekali, dilihatnya lembar kertas itu dan berkata “Haserun...mengapa lembar jawabanmu kosong?”. Haserun menjawab dengan cemas dan kikuk “Ma..ma..aaff pak, saya belum tahu mau memberi jawaban apa...karena saya tidak membaca..”. Pak Guru berkata “Esok panggil orang tuamu menghadap bapak, mengerti?!”. Haserun dengan lunglai dan pasrah “iya pak, segera”.


**


Hari ini perwakilan orangtua dari Haserun dipanggil, untuk menemui Pak Guru. Ibunya lah yang berangkat untuk menemui Pak Guru, karena Bapak Haserun mestilah berkerja demi mengepulnya asap di dapur mereka.
Setibanya Ibu Haserun di sekolah, langsung masuk dan menemui Pak Guru. Pak Guru memulai “Saya hendak bertanya kepada Ibu, mengapa bisa terjadi Haserun mengalami kondisi buruk seperti ini?”. Bersahut sang Ibu “Buruk?...apa yang dimaksud dengan Pak Guru?”. Pak Guru menjawab “Iya, Haserun mempunyai nilai yang sangat buruk jauh dari teman-teman sebayanya, pada saat diadakan tes, Haserun tidak bisa menjawab salah satu nomor dari soal yang saya berikan, apakah Ibu selaku orangtua dari Haserun sering menemani dan memperingatkannya untuk belajar?. Menjawab Ibu Haserun dengan kikuk “ Maaf pak...saya tidak pernah memperingatkan, atau pun menemani Haserun belajar pak...karena saya dan suami sibuk dengan tempat kerja kami di pabrik, karena keadaan kondisi pabrik yang setiap harinya sibuk, tetapi saya sering sekali membelikan buku-buku untuk dia baca...”. Pak Guru memotong “Tetapi percuma kalau Ibu sendiri terus membeli buku, juga tidak dibaca oleh anak ibu sendiri”. Ibu Haserun bersahut “Saya juga paham dengan kondisi seperti ini pak, dengan kurangnya pengawasan yang kami lakukan terhadap Haserun, mungkin sekarang kami selaku orangtua akan memberikan penyuluhan kepada anak kami, untuk bisa belajar lebih giat dan baik”.
Percakapan pada saat itu menemukan solusi, yang akhirnya Ibu Haserun tidak lagi bekerja di pabrik bersama suaminya, dan ingin menemani Haserun saat ia berada di rumah.
**
Pada suatu malam, Haserun bersama Ibu duduk di kursi yang diterangi oleh sebuah pelita yang tergeletak di atas meja, Ibu Haserun memulai “Nak, kau lihat pelita yang menyala itu?”. Haserun tertegun, lalu menjawab “Iya bu, pelita itu menerangi malam kita yang gelap dan dingin”. Ibu memulai kembali “Ibu ingin kau seperti pelita itu, nak”. Haserun tak mengerti maksud apa yang diinginkan ibunya, dan bertanya “Kok saya jadi pelita, bu?...saya kan tidak mempunyai sumbu untuk dibakar, bu...ibu senang aku jadi pelita yang terbakar, dan ibu mau aku terbakar?”. Ibunya heran dan menjawab “Hah, ya tidak harus jadi seperti itu juga, nak....yang ibu maksud dengan pelita yaitu, pabila kamu sering membaca, kamu dapat mengetahui berbagai macam pengetahuan dan informasi yang sebelumnya kamu tidak mengerti, menjadi mengerti, dan itu bisa menjadi seperti pelita, yang bisa menerangi dirimu sendiri, dalam gelap yang dingin, malah juga kamu bisa menerangi kegelapan yang dialami oleh setiap orang yang ada disekitarmu, maksud ibu seperti itu, nak”. Haserun menjawab “Oh, seperti itu bu, heheh...maaf ya bu, selama ini, aku tidak membaca buku yang selama ini sering engkau berikan kepadaku, mulai sekarang saya akan memperbaiki kebiasaan buruk ini menjadi kebiasaan baik untuk diriku sendiri, dan mungkin saya juga bisa menjadi seperti pelita yang ibu maksud”. Ibu tersenyum, dan mendekap Haserun seraya berkata “Membacalah nak, terang bersamamu”.



TAMAT.

Sabtu, 25 Februari 2017

Sekelebat Pandangku

Sekelebat Pandangku.

Oleh : PekikkanJemari

            SAAT SORE menggema langit pucat juga awan-awan yang mengepul bagai kapas maupun kembang gula, tetapi tidak memuncratkan airnya ke bawah, hanya angin yang genit selalu ingin tabrak-menabraki manusia yang lelah selepas menjalani kegiatan rutinitasnya mencari nafkah untuk orang-orang yang disayanginya. Aku berada di muka stasuin kereta yang hendak kuhampiri untuk menuju rumah sehabis menguras waktu bersama teman-teman.

            Kerumunan orang sering kujumpai setelah masuk pintu gerbang stasiun, sehabis itu aku memekik kepada juru layan untuk membeli karcis kereta yang akan kusinggahi tuk beberapa menit “St. Rawa Buaya satu, Mas”. Ia membalas pekikanku “13.000”  juru layan di loket langsung menyodorkanku sebuah tiket yang lalu langsung kucengkram erat-erat tiket itu.

            Masuk peron, langit masih pucat dengan ciri khasnya masih dengan awan kelam layaknya kembang gula tanpa meneteskan airnya ke bumi yang pongah. Aku melihat paras-paras robot yang lelah, lemah, karena sedari pagi mereka bersusah-payah. Tigabelas menit kereta baru mengahmpiri, Aku masuk, terdapat bangku panjang yang berwarna biru sangat didominasi di gerbong itu, lampu neon dengan gagahnya memekikkan sinarnya tanpa malu-malu kepada siapa saja. Di atas kepalaku berjejal penyanggah yang terbuat dari besi alumunium yang tersusun rapih seperti jemuran di rumah yang dimiliki oleh ibu.

            Kuhela napas, sambil memeluk tas dan kupangku di atas pahaku. Daguku dipapah oleh tas yang begitu beratnya. Kemudian aku syak, pandangku dipapaskan dengan wanita berbalut busana rapat tetapi tidak ketat, begitu longgar dan nyaman untuk para kaum hawa dengan warna kuning cerah bak matari pagi. Ditambah dengan aksen kaca mata yang menyangguli hidung mancungnya, air mukanya jernih, bersih, dan ada sedikit gula-gula berserakan di wajahnya, bulu matanya yang tebal menandakan ia seorang yang sangat bersahaja. Tatapnya kini kurasai. Aku tak berani memulai percakapan kosong yang terus membanjiri hati. Rasa skpetisme yang berlebihan yang biasanya aku lontarkan kepada teman-teman pada saat presentasi di waktu kuliah, kini lidahku tak ingin dan begitu sangat dingin, tak bergerak. Lidahku matisuri. Hanya mata yang bisa berbicara pada saat itu. Lirik-melirik kemayu sangat jelas kurasai, apakah mungkin ia merasakannya juga?.

            Untuk menuju St. Rawa Buaya masih perlu melewati 4 stasiun lagi. Dan perasaanku makin menggebu ketika didukung dengan suasana kereta yang mirip seperti kuburan, semua manusia gemar memasukan benda asing ke dua lubang kupingnya untuk menemukan kegembiraan, di saat menutup satu hari yang sangat lelah. Aku merasa rikuh, dan tak jelas arah seperti tersesat di hutan penuh dengan berbagai  macam teka-teki yang akhirnya akan membuatku masuk ke jurang tanpa ranum.

            Tetapi, perasaan itu kini seperti atap lapuk, yang sudah didiami oleh para pemiliknya tanpa pernah dirawatnya hingga pada suatu saat hujan turun air masuk dan membanjiri ruangan itu. Di sebelahnya terdapat kekasihnya, yang setiap kali mengulum tangannya tanpa ampun. Kini penglihatanku kuusahakan untuk tidak lagi memandangnya, kucoba mengalihkan pandangku ke jendela luar yang menyuguhkan panorama-panorama alam, tetapi sayang begitu malang kejadian ini untuk melayang apalagi dikenang!. Aku tertarik kembali oleh paras mukanya, begitu juga dengan ia. Seperti ada magnet yang terpatri di dalam mataku dan matanya, yang menemukan sumbu utara dan selatan yang selalu melekat dan juga inheren.


            Tak berasa St. Rawa Buaya dekat sekali denganku, dan memaksaku untuk mengambil posisi berdiri untuk keluar dari gerbong, menuju peron St. Rawa Buaya. Ketika sampai di peron suasana hatiku seperti biasa. Tak ada lagi kuning matari yang menyinari hatiku seperti saat tadi pada saat di dalam gerbong. Langit makin tidak ranum, awan mendung kini hadir lebih dominan, kemudian gerimis menyusul kemudian, tak lupa juga hujan di belakangnya.