Sekelebat Pandangku.
Oleh : PekikkanJemari
SAAT
SORE menggema langit pucat juga awan-awan yang mengepul bagai kapas maupun
kembang gula, tetapi tidak memuncratkan airnya ke bawah, hanya angin yang genit
selalu ingin tabrak-menabraki manusia yang lelah selepas menjalani kegiatan
rutinitasnya mencari nafkah untuk orang-orang yang disayanginya. Aku berada di
muka stasuin kereta yang hendak kuhampiri untuk menuju rumah sehabis menguras
waktu bersama teman-teman.
Kerumunan
orang sering kujumpai setelah masuk pintu gerbang stasiun, sehabis itu aku
memekik kepada juru layan untuk membeli karcis kereta yang akan kusinggahi tuk
beberapa menit “St. Rawa Buaya satu, Mas”. Ia membalas pekikanku “13.000” juru layan di loket langsung menyodorkanku
sebuah tiket yang lalu langsung kucengkram erat-erat tiket itu.
Masuk
peron, langit masih pucat dengan ciri khasnya masih dengan awan kelam layaknya
kembang gula tanpa meneteskan airnya ke bumi yang pongah. Aku melihat
paras-paras robot yang lelah, lemah, karena sedari pagi mereka bersusah-payah.
Tigabelas menit kereta baru mengahmpiri, Aku masuk, terdapat bangku panjang
yang berwarna biru sangat didominasi di gerbong itu, lampu neon dengan gagahnya
memekikkan sinarnya tanpa malu-malu kepada siapa saja. Di atas kepalaku berjejal
penyanggah yang terbuat dari besi alumunium yang tersusun rapih seperti jemuran
di rumah yang dimiliki oleh ibu.
Kuhela
napas, sambil memeluk tas dan kupangku di atas pahaku. Daguku dipapah oleh tas
yang begitu beratnya. Kemudian aku syak, pandangku dipapaskan dengan wanita
berbalut busana rapat tetapi tidak ketat, begitu longgar dan nyaman untuk para
kaum hawa dengan warna kuning cerah bak matari pagi. Ditambah dengan aksen kaca
mata yang menyangguli hidung mancungnya, air mukanya jernih, bersih, dan ada
sedikit gula-gula berserakan di wajahnya, bulu matanya yang tebal menandakan ia
seorang yang sangat bersahaja. Tatapnya kini kurasai. Aku tak berani memulai
percakapan kosong yang terus membanjiri hati. Rasa skpetisme yang berlebihan
yang biasanya aku lontarkan kepada teman-teman pada saat presentasi di waktu
kuliah, kini lidahku tak ingin dan begitu sangat dingin, tak bergerak. Lidahku matisuri. Hanya mata yang
bisa berbicara pada saat itu. Lirik-melirik kemayu sangat jelas kurasai, apakah
mungkin ia merasakannya juga?.
Untuk
menuju St. Rawa Buaya masih perlu melewati 4 stasiun lagi. Dan perasaanku makin
menggebu ketika didukung dengan suasana kereta yang mirip seperti kuburan,
semua manusia gemar memasukan benda asing ke dua lubang kupingnya untuk
menemukan kegembiraan, di saat menutup satu hari yang sangat lelah. Aku merasa
rikuh, dan tak jelas arah seperti tersesat di hutan penuh dengan berbagai macam teka-teki yang akhirnya akan membuatku
masuk ke jurang tanpa ranum.
Tetapi,
perasaan itu kini seperti atap lapuk, yang sudah didiami oleh para pemiliknya
tanpa pernah dirawatnya hingga pada suatu saat hujan turun air masuk dan
membanjiri ruangan itu. Di sebelahnya terdapat kekasihnya, yang setiap kali
mengulum tangannya tanpa ampun. Kini penglihatanku kuusahakan untuk tidak lagi
memandangnya, kucoba mengalihkan pandangku ke jendela luar yang menyuguhkan
panorama-panorama alam, tetapi sayang begitu malang kejadian ini untuk melayang apalagi dikenang!. Aku tertarik kembali oleh paras
mukanya, begitu juga dengan ia. Seperti ada magnet yang terpatri di dalam
mataku dan matanya, yang menemukan sumbu utara dan selatan yang selalu melekat
dan juga inheren.
Tak
berasa St. Rawa Buaya dekat sekali denganku, dan memaksaku untuk mengambil
posisi berdiri untuk keluar dari gerbong, menuju peron St. Rawa Buaya. Ketika
sampai di peron suasana hatiku seperti biasa. Tak ada lagi kuning matari yang
menyinari hatiku seperti saat tadi pada saat di dalam gerbong. Langit makin
tidak ranum, awan mendung kini hadir lebih dominan, kemudian gerimis menyusul
kemudian, tak lupa juga hujan di belakangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar